Home Event Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan – Puisi Yang Tak Perlu...

Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan – Puisi Yang Tak Perlu Pengeras Suara

1631
0
SHARE
Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan

Tulisanku untuk Sahabat William Robert yang lagi berpameran tunggal “JENDELA SERIBU PINTU”di Gedung Pusat Kebudayaan .

Puisi Yang Tak Perlu Pengeras Suara

Premis jagad Alit dan jagad Ageng yang dipakai Pelukis William Roberts untuk pameran tunggalnya yang ke 16, di Gedung Pusat Kebudayaan , Bandung .   

Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan

Menampil kan delapan karya yg ter-display dengan ukuran canvas selinder yang paling kecil dengan diameter 200 cm hingga ukuran 290×800 cm. Bagi saya, sangat menarik untuk dibaca sebagai pernyataan artistik yg paripurna dari perjalanan  keperupaannya sebagai pelukis, yg sudah malang melintang puluhan tahun dalam berkarya. Dimana  kita menemukan titik pertemuan antara gagasan dan cara yang sublim dalam menentukan titik mulai yg tak bisa dibendung, hal itu bisa di lihat sebagai kekuatan artistik dari  8 karya tersebut.

Baca : Menuju PAMOSPATI #2

Dimensi waktu sebagai reprentasi situasi bathin yang dihayatinya sebagai manifestasi  jalan karyanya saat ini. Pameran yang diberi judul “Jendela Seribu Pintu” Seperti mencoba mendekontruksi ingatan atas perjalanan si perupa dari waktu ke waktu. Membangun lapisan demi lapisan warna untuk saling menyapa, membuat lintasan garis yang menghubungkan bidang warna tersebut dengan garis barhin yang diperhitungkan. Seperti orkestrasi Tampa henti dengan kekuatan ygan harmonis. Menegasikan emosi sebagai pilihan untuk tetap hadir sebagai jalan yg membuat keterhubungan atas memory kolektifnya dalam rupa bentuk yang tak terduga. William Robert seperti layaknya penyair  dengan cara menvisualkan warna sebagai puisi dengan kekuatan metafor yang terpilih. Puisi yang mendetum dalam kekuatan barhin, tidak perlu mengunakan pengeras suara untuk berteriak lebih lantang untuk didengar, cukup dirasakan.

Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan

Dengan itu, karyanya akan mengajak kita mengalami kondisi yang katarsis untuk tidak harus dituntut untuk  paham dan mengerti, akan tetapi cukup dirasakan dan  dinikmati. Dari delapan karya yang dipamerkan, kita bisa melihat keluasan spektrum  dari ide ,eksekusi karya dan pertimbangan ruang untuk masing-masing karya. Dari sini kita bisa merasakan suasana  barhin si perupa yang selalu menjadikan canvas sebagai ruang pertemuan untuk membuat percakapan. Barangkali Saja Jendela Seribu Pintu  yang menjadi sumber ide dari kekaryaan ini, merupakan jalan menemukan wahana lain yang tak terduga dari jendela ke jendela berikutnya.

Baca : Kepercayaan Wangsa Bonokeling

Gambaran abstraksi dari garis, warna, dimensi artistik yg berkelindan dalam karyanya,merupakan wujud yang tak sudah  sudah di perbincangkan dalam konteks hari ini. Seperti dalam karya dengan judul “Rangkaian Do’a di Balik Pintu (Baja) Kita bisa membayangkan bagaimana Do’a tidak perlu ruang,karna Do’a merupakan dimensi Tampa batas yg terhubung langsung dalam Niskala.

Begitu juga kalau kita amati, Karya dengan judul “Catatan Tanpa Akhir” barang kali hal ini bisa dibaca sebagai, rangkaian perjalan yang selalu menyisakan kenangan demi kenangan untuk dijadikan pelajaran. Mencatat pengalaman sebagai guru dari kehidupan,barangkali itu pesan yang kita tangkap dari karya ini. Representasi lapisan demi lapisan warna yang berdiri tegak,seperti diary yang membawa dan mengiringi kita untuk sadar akan sebuah perjalan. Semua karyanya mengunakan  penjudulan yang puitis, ini tentunya menciptakan ruang dialektika sendiri bagi yang menikmatinya.

Jendela Seribu Pintu di Gedung Pusat Kebudayaan

Jendela Seribu Pintu, seperti mengajak kita tamasya untuk melihat keluasan, ketegaran,kekuatan serta obsesi artistik si perupa dalam pameran ini. Dari sini,ada semacam idiom -idiom kecil untuk kita petik menjadi ingatan, untuk kita bawa pulang menjadi renungan. Bagaimana cara kita menaklukan ego untuk menjaga keseimbangan. Pameran “Jendela Seribu Pintu”  semacam ritus visual dalam sebuah ruang yg ditarik kedalam bidang canvas, untuk menafsir makna dari lapisan lapisan cerita yg diurai secara repetisi lewat warna, cahaya dan bathin senimanya.William.Puisi visualmu memang tak membutuhkan To’a atau pengeras suara yang lain untuk mendetumkan semangatmu hari ini. Cukup sudah hanya dengan kelebatan warna dan sapuan kuas yang menari,menekan dan meninggi tak henti -henti.

Baca : Ciri kHas Pertunjukan Wayang Topeng Jatiduwur

 Selamat berpameran kawan!! Agar Jagat Alit di jiwamu tetap menggelora ,dan Jagat Ageng tetap menjaga  ritme dan selalu menginspirasimu.

Salam Budaya

Aidil Usman 

Ketua Komite Seni Rupa 

Dewan Kesenian Jakarta

LEAVE A REPLY