Home Budaya Benarkah Kebudayaan Toraja Telah Bergeser?

Benarkah Kebudayaan Toraja Telah Bergeser?

1148
0
SHARE

Info Budaya : Toraja salah satu daerah di Sulawesi Selatan merupakan salah satu daerah wisatawa yang banyak dikunjungi wisatawan karena keadaan alam dan tradisi masyarakat Toraja.

Tongkonan di Papa Batu, desa Desa Banga - Bittuang. Menurut keterangan Tongkonan yang berumur lebih dari 700 tahun ini sudah dihuni lebih dari sepuluh generasi. (Image BongaToraja com)
Tongkonan di Papa Batu, desa Desa Banga – Bittuang. Menurut keterangan Tongkonan yang berumur lebih dari 700 tahun ini sudah dihuni lebih dari sepuluh generasi. (Image BongaToraja com)

Sebelum mengambil kesimpulan sedikit gambaran mengenai Kebudayaan Toraja, walaupun tulisan ini hanya singkat dan tidak mendetail, tapi paling tidak dapat menjadi acuan bagi pembaca info budaya untuk menilai sendiri apa Kebudayaan Toraja telah bergeser atau masih bertahan sampai sekarang.

Animisme Politeistik, adalah sistem kepercayaan yang dianut suku Toraja. Animisme Politeistik, dalam Bahasa Toraja disebut “Aluk” atau “Jalan” dan terkadang diartikan sebagai “Hukum”. Menurut aluk dunia terbagi menjadi 3 bagian yaitu dunia atas (surga), dunia manusia (bumi) dan dunia bawah.

Asal-usul orang Toraja diawalai dengan datangnya leluhur dari surga yang disebuta dengan Puang Matua (dewa Pencipta) menggunakan tangga. Pada awalnya, surga dan bumi menikah dan menghasilkan kegelapan, pemisah, dan kemudian muncul cahaya.

Baca : Ritual Ma’Nene (Mayat Berjalan) di Toraja

Dewa-dewa Toraja lainnya adalah Pong Banggai di Rante (dewa bumi), Indo’ Ongon-Ongon (dewi gempa bumi), Pong Lalondong (dewa kematian), Indo’ Belo Tumbang (dewi pengobatan), dan lainnya.

Aluk bukan hanya sistem kepercayaan, tetapi juga merupakan gabungan dari hukum, agama, dan kebiasaaan. Aluk mengatur kehidupan bermasyarakat, praktik pertanian, dan ritual keagamaan. Tata cara Aluk bisa berbeda antara satu desa dengan desa lainnya. Satu hukum yang umum adalah peraturan bahwa ritual kematian dan kehidupan harus dipisahkan.

Tau ga sieh kenapa Ritual kehidupan suku toraja tidak dijalankan sampai sekarang?

Image : selipancom info-budaya-ritual-manene-toraja
Image : selipancom
info-budaya-ritual-manene-toraja

Baca : Perkembangan Dramaturgi dalam Pertunjukan Kontemporer oleh Petter Eckersall

Ketika ada para misionaris dari Belanda, orang Kristen Toraja tidak diperbolehkan menghadiri atau menjalankan ritual kehidupan, tetapi diizinkan melakukan ritual kematian. Akibatnya, ritual kematian masih sering dilakukan hingga saat ini, tetapi ritual kehidupan sudah mulai jarang dilaksanakan.

Suku Toraja percaya bahwa ritual kematian akan menghancurkan jenazah jika pelaksanaannya digabung dengan ritual kehidupan. Kedua ritual tersebut sama pentingnya.

Hewan tinggal di dunia bawah yang dilambangkan dengan tempat berbentuk persegi panjang yang dibatasi oleh empat pilar, bumi adalah tempat bagi umat manusia, dan surga terletak di atas, ditutupi dengan atap berbetuk pelana.

Kekuasaan di bumi yang kata-kata dan tindakannya harus dipegang baik dalam kehidupan pertanian maupun dalam upacara pemakaman, disebut to minaa (seorang pendeta aluk).
Dalam masyarakat Toraja, upacara pemakaman merupakan ritual yang paling penting dan berbiaya mahal. Semakin kaya dan berkuasa seseorang, maka biaya upacara pemakamannya akan semakin mahal.

Dalam agama aluk, hanya keluarga bangsawan yang berhak menggelar pesta pemakaman yang besar. Pesta pemakaman seorang bangsawan biasanya dihadiri oleh ratusan orang dan berlangsung selama beberapa hari.

Baca : Terbongkar Ini Rahasia Toraja Dikenal Di Seluruh Dunia

Sebuah tempat prosesi pemakaman yang disebut rante biasanya disiapkan pada sebuah padang rumput yang luas, selain sebagai tempat pelayat yang hadir, juga sebagai tempat lumbung padi, dan berbagai perangkat pemakaman lainnya yang dibuat oleh keluarga yang ditinggalkan.

Info Budaya Keguatan Toraja Internasional Festival 2015 (Image traveldetik))
Info Budaya Keguatan Toraja Internasional Festival 2015 (Image traveldetik))

Musik suling, nyanyian, lagu dan puisi, tangisan dan ratapan merupakan ekspresi duka cita yang dilakukan oleh suku Toraja tetapi semua itu tidak berlaku untuk pemakaman anak-anak, orang miskin, dan orang kelas rendah.

Upacara pemakaman ini kadang-kadang baru digelar setelah berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun sejak kematian yang bersangkutan, dengan tujuan agar keluarga yang ditinggalkan dapat mengumpulkan cukup uang untuk menutupi biaya pemakaman.

Suku Toraja percaya bahwa kematian bukanlah sesuatu yang datang dengan tiba-tiba tetapi merupakan sebuah proses bertahap menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Dalam masa penungguan itu, jenazah dibungkus dengan beberapa helai kain dan disimpan di bawah tongkonan. Arwah orang mati dipercaya tetap tinggal di desa sampai upacara pemakaman selesai, setelah itu arwah akan melakukan perjalanan ke Puya.

Baca : Suaeb Mahbub, Corong Lembaga Kebudayaan Betawi

Bagian lain dari pemakaman adalah penyembelihan kerbau. Semakin berkuasa seseorang maka semakin banyak kerbau yang disembelih. Penyembelihan dilakukan dengan menggunakan golok. Bangkai kerbau, termasuk kepalanya, dijajarkan di padang, menunggu pemiliknya, yang sedang dalam “masa tertidur”.
Suku Toraja percaya bahwa arwah membutuhkan kerbau untuk melakukan perjalanannya dan akan lebih cepat sampai di Puya jika ada banyak kerbau.

Sebagian daging tersebut diberikan kepada para tamu dan dicatat karena hal itu akan dianggap sebagai utang pada keluarga almarhum.

Ada tiga cara pemakaman: Peti mati dapat disimpan di dalam gua, atau di makam batu berukir, atau digantung di tebing. Orang kaya kadang-kadang dikubur di makam batu berukir. Makam tersebut biasanya mahal dan waktu pembuatannya sekitar beberapa bulan.
Di beberapa daerah, gua batu digunakan untuk meyimpan jenazah seluruh anggota keluarga. Patung kayu yang disebut tau tau biasanya diletakkan di gua dan menghadap ke luar.

Baca : Peradaban Pra-sejarah Ini Masih Jarang Di Ketahui

Bahasa Toraja adalah bahasa yang dominan di Tana Toraja, dengan Sa’dan Toraja sebagai dialek bahasa yang utama. Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional adalah bahasa resmi dan digunakan oleh masyarakat, akan tetapi bahasa Toraja pun diajarkan di semua sekolah dasar di Tana Toraja.

info-budaya-indonesia-wisata-religi-toraja Patung Yesus
info-budaya-indonesia-wisata-religi-toraja Patung Yesus

Ragam bahasa di Toraja antara lain Kalumpang, Mamasa, Tae’ , Talondo’ , Toala’ , dan Toraja-Sa’dan, dan termasuk dalam rumpun bahasa Melayu-Polinesia dari bahasa Austronesia.
Pada mulanya, sifat geografis Tana Toraja yang terisolasi membentuk banyak dialek dalam bahasa Toraja itu sendiri. Setelah adanya pemerintahan resmi di Tana Toraja, beberapa dialek Toraja menjadi terpengaruh oleh bahasa lain melalui proses transmigrasi, yang diperkenalkan sejak masa penjajahan. Hal itu adalah penyebab utama dari keragaman dalam bahasa Toraja.

Baca : Sejarah Wayang Di Indonesia

Secara sadar atau tidak sadar, masyarakat toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan masyarakat yang menganut filosofi tau. Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan arah menjadi manusia (manusia=”tau” dalam bahasa toraja) sesungguhnya dalam konteks masyarakat toraja. Filosofi tau memiliki empat pilar utama yang mengharuskan setiap masyarakat toraja untuk menggapainya, antara lain: – Sugi’ (Kaya) – Barani (Berani) – Manarang (Pintar) – Kinawa (memiliki nilai-nilai luhur, agamis, bijaksana) Keempat pilar di atas tidak dapat di tafsirkan secara bebas karena memiliki makna yang lebih dalam dari pada pemahaman kata secara bebas. Seorang toraja menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup sebagai Tau.

Baca : Hastag Jangan Meninggal Sebelum Ke Toraja

Setelah membaca ulasan diatas, maka boleh dikatakan ada beberapa hal dalam kebudayaan Toraja yang bergeser karena beberapa hal, dan yang dominan adalah karena pengaruh agama.
Kebudayaan Toraja bergeser atau tidak, tidak dapat di nilai secara keseluruhan karena ada beberapa hal yang sampai sekarang masih dipegang teguh orang Toraja.

LEAVE A REPLY