Info Budaya : Setiap masyarakat dimanapun berada baik di pedesaan maupun pedalaman selalu memiliki pengetahuan lokal yang terkait dengan lingkungan hidupnya.
Pengetahuan lokal terkait dengan perubahan dan siklus iklim kemarau dan penghujan, jenis-jenis fauna dan flora, dan kondisi geografi, demografi, dan sosiografi.
Hal ini terjadi karena masyarakat mendiami suatu daerah itu cukup lama dan telah mengalami perubahan sosial yang bervariasi menyebabkan mereka mampu beradaptasi dengan lingkungannnya.
Baca : Keutuhan Keluarga dan Goa Margo Tresno
Kemampuan adaptasi ini menjadi bagian dari pengetahuan lokal mereka dalam menaklukkan alam.
Berikut adalah kearifan lokal yang terdapat di Sulawesi Selatan
Kepercayaan Toani Tolotang
Ajaran Toani Tolotang tentang pandangan ke-Tuhanannya mengakui adanya Tuhan sebagaimana pula pengakuan dari agama lain, dan bagi ajaran Tolotang yang diakui Tuhan adalah “Dewata SeuwaE (Tuhan yang Maha Esa) yang bergelar PatotoE
Baca : Berkesenian Secara Mandiri Kok Bisa
Kepercayaan Ammatoa
Kepercayaan Ammatoa termasuk Kepercayaan Patuntung. Yaitu kepercayaan kepada nenek moyang yang bersumber kepada Amma Toa ( leluhur yang tertua )
Aluk Tudolo
Aluk tudolo adalah salah satu keprcayaan Religio-magis yang ada di Tana Toraja, dengan tokoh sentral adalah Puang Matua. Penyelenggaraan kegiatan kepercayaan itu melalui berbagai upacara ritual, seperti: Rambu Tuka dan Rambu Solo’. Pemujaan dan penghormatan kepada leluhur di alam Puya ( alam Roh ), dihubungkan dengan kehidupan dalam keluarga, melalui berbagai Tongkonan Layuk
Kepercayaan kepada Saukang
Kata Saukang berasal dari 2 kata yaitu, Sau yang berarti istirahat/ammari-mari dan Kang yang berarti menunjukkan tempat. Saukang dipercayai sebagai tempat beristirahatnya arwah para nenek moyang, orang-orang hebat, karaeng, Dewata
Baca : Peradaban Pra-sejarah Ini Masih Jarang Di Ketahui
Kearifan lokal lainnya yang terdapat di Sulawesi Setan adalah kearifan lokal daerah Malakaji, berikut adalah kearifan lokalnya
Akkudu’-kudu’, adalah tradisi yang dilakukan masyarakat setelah masa panen padi. Tradisi ini adalah sebuah tanda rasa sykur kepada Yang Maha Esa atas karunia yang telah diberikan. Tradisi ini masih terjaga sampai sekarang, terutama di daerah Sapayya ( Kec.Bungayya ). Alat utama yang digunakan dalam tradisi ini adalah Assung ( lesung ) yang melahirkan irama music yang merdu.
A’rate’, adalah tradisi pembacaan kitab Barzanji pada bulan Rabiul Awwal ( bukan kelahiran Nabi Muhammad saw ). Tradisi ini menyebear di semua wilayah yang berada di dataran tinggi Kabupaten Gowa. A’rate’, pada umumnya dilakukan oleh kaum laki-laki, baik usia muda maupun tua.
Accera’ Pabballe, yang berarti memotong hewan tertentu disebabkan karena ada hajat. Dilakukannya tradisi ini dikarenakan ada orang yang berhajat bila mendapatkan hal yang baik, misalnya kesembuhan, kesehatan, maka akan memotong hewan tertentu pada tempat yang memang sudah sering didatangi, seperti Saukang dan Batarayya.
Baca : Saat Bule Yang Melestarikan Kebudayaan dan Kesenian Indonesia
Appalili’, adalah tradisi pembacaan kemenyam dan mengarak sepasang sapi/kerbau di sawah. Tradisi ini dilaksanakan sebelum tanam padi. Ada juga tradisi appalili’ yang dilaksanakan secara besar-besaran yaitu mengarak seekor kerbau jantan besar mengelilingi kampong dan diiringi dengan ganrang dan pui-pui.
Sobat Info Budaya Indonesia jika masih ada kearifan lokal di sulawesi selatan yang anda ketahui, silakan memberikan masukan di kolom komentar dibawah. Atau jika ingin memasang iklan hubungi kami disini