Home Budaya Mengungkap Jejak Peradaban Nganjuk: Perjalanan Sejarah Bersama “Traveling Vintage” 2025

Mengungkap Jejak Peradaban Nganjuk: Perjalanan Sejarah Bersama “Traveling Vintage” 2025

392
0
SHARE
Para pelajar dipandu langsung oleh mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Para pelajar dipandu langsung oleh mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Info Budaya – Kabupaten Nganjuk merupakan salah satu wilayah di Jawa Timur yang banyak ditemukan peninggalan benda-benda bersejarah, seperti Candi, Arca, Prasasti, dan Masjid Kuno. Benda-benda tersebut ditemukan menyeluruh hampir disetiap sudut wilayah Nganjuk. Menunjukan bahwa wilayah Nganjuk sudah memiliki peradaban sejak lama. Sebagian benda-benda bersejarah tersebut masih tersimpan aman di tempat awal ditemukan, ada juga sebagian yang disimpan di Museum Anjuk Ladang dan Museum Dr. Soetomo. 

Anna Nur Nita sejarawan asal Kabupaten Nganjuk menggagas sebuah kegiatan  bertajuk Traveling Vintage Kabupaten Nganjuk 2025. Kegitatan tersebut dilaksanakan untuk mengenalkan beberapa tempat-tempat peninggalan bersejarah di Kabupaten Nganjuk. Dalam pelaksanaanya, mengajak para pelajar SMA se-kabupaten Nganjuk mengunjungi beberapa tempat-tempat bersejarah, diantaranya, Masjid Al-Mubarok Berbek, Museum Anjuk Ladang, Museum Dr. Soetomo, Candi Ngetos dan Candi Lor. Para pelajar dipandu langsung oleh mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Masjid Al-Mubarok Berbek Kabupaten Nganjuk

Masjid Al-Mubarok terletak di Desa Kacangan, Kecamatan Berbek, Kabupaten Nganjuk, sebelah barat alun-alun Berbek. Dalam sejarahnya, masjid ini merupakan peninggalan dari Kanjeng Raden Toemenggoeng Soesrokusumo I yang berdiri pada 1745. Ia adalah salah satu tokoh yang erat dengan sejarah perjalanan kabupaten Nganjuk, yakni Bupati pertama Kabupaten Berbek. Berbek merupakan nama administratif kabupaten yang pada akhirnya diganti menjadi Kabupaten Nganjuk.

Masjid Al-Mubarok memiliki struktur arsitektur yang cukup unik, yakni perpaduan antara lagam arsitektur Jawa Islam dan Hindu-Budha. Halaman depan masjid terdapat gapura padukrasa dibangun dengan bahan dasar batu merah. Di bagian dalam terdapat 4 tiang (sokoguru) dengan atap berbentuk limasan trajumas. Juga terdapat sebuah yoni yang diatasnya terdapat sebuah besi, yang difungsikan sebagai penanda masuknya waktu sholat.

Masjid ini memiliki kesaman dengan struktur candi pada umumnya. Bagian kaki masjid terdapat tangga-tangga kecil yang mengelilingi masjid. Bagian tubuh masjid dihias dengan ornament-ornamen yang terdapat pada bagian mimbar mihram dan disetiap sisi tiang (sokoguru). Bagian atap masjid berbentuk tumpeng bersusun tiga, dan pada bagian puncak terdapat ragam hias khusus yang disebut makutha.

Kisah Masjid Al-Mubarok dan perubahan administratif ini tidak hanya berbicara tentang bangunan dan batas wilayah, tetapi juga tentang adaptasi, pertumbuhan, dan bagaimana sebuah komunitas berinteraksi dengan lingkungannya sepanjang sejarah. Pengunjung yang datang ke Masjid Al-Mubarok tidak hanya melihat sebuah bangunan kuno, tetapi juga merasakan denyut sejarah yang membentuk Nganjuk hingga saat ini.

Museum Anjuk Ladang

Museum Anjuk Ladang merupakan museum daerah yang berdiri di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Terletak strategis di Jalan Gatot Subroto, Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk, tepat di sebelah timur Terminal Bus Nganjuk, museum ini menjadi rumah bagi beragam koleksi artefak yang mencerminkan kekayaan sejarah dan kebudayaan wilayah Nganjuk dari masa ke masa.

Didirikan antara tahun 1993 hingga 1996 atas prakarsa Bupati Nganjuk saat itu, Drs. R. Soetrisno Rachmadi, museum ini resmi difungsikan pada 10 April 1996, bertepatan dengan Hari Jadi Kabupaten Nganjuk yang ke-1059. Tujuan utama pendirian museum ini adalah untuk menampung dan melestarikan seluruh benda cagar budaya yang ditemukan di Nganjuk, sehingga dapat menjadi sarana edukasi dan informasi bagi masyarakat, terutama generasi muda.

Bangunan museum ini terbagi menjadi beberapa bagian. Bagian depan berbentuk joglo yang menjadi tempat utama untuk menyimpan Prasasti Anjuk Ladang. Sementara itu, bangunan induknya digunakan untuk menyimpan berbagai koleksi lain seperti guci, wayang kulit, mangkuk, topeng, genta, dan lain-lain. 

Museum Anjuk Ladang memiliki koleksi yang sangat beragam dan dianggap sebagai salah satu museum daerah dengan koleksi terlengkap di Jawa Timur. Koleksi-koleksi ini ditata rapi mengikuti alur peradaban, membawa pengunjung seolah masuk ke lorong waktu, menjelajah zaman purba, klasik, hingga kolonial. Totalnya, ada lebih dari 800 koleksiyang tersimpan di museum ini.

Para pelajar dipandu langsung oleh mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.
Para pelajar dipandu langsung oleh mahasiswa Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember.

Berikut adalah beberapa koleksi penting yang bisa Anda temukan di Museum Anjuk Ladang:

  • Prasasti Anjuk Ladang: Ini adalah koleksi utama dan paling bersejarah di museum ini. Replika prasasti asli berangka tahun 859 Saka (937 Masehi) ini merupakan cikal bakal nama “Nganjuk”. Prasasti ini mencatat peristiwa penting di mana penduduk Desa Anjuk Ladang mendapat anugerah dari Raja Pu Sindok karena berjasa membantu pasukan raja menghalau serangan tentara Melayu ke Mataram Kuno.
  • Koleksi Arca Hindu-Buddha: Museum ini menyimpan berbagai arca peninggalan era Kerajaan Hindu-Buddha, khususnya dari Kerajaan Medang, seperti: Arca Durga, Arca Dwarapala, Arca Ganesa, Arca Siwa, Arca Wanita, Arca Wisnu, Arca Logam Rara Kuning (ditemukan di Objek Wisata Roro Kuning), Lingga, Lingga Yoni, Fragmen Kala.
  • Koleksi Fosil: Museum Anjuk Ladang juga memiliki koleksi fosil hewan dan tumbuhan purba yang ditemukan di wilayah Nganjuk, khususnya dari situs hutan Tritik, Kecamatan Rejoso. Koleksi fosil ini menjadi bukti adanya kehidupan purba di daerah Nganjuk.
  • Koleksi Etnografi dan Numismatik:
    • Guci, mangkuk, dan gerabah: Benda-benda ini memberikan gambaran tentang kehidupan sehari-hari masyarakat Nganjuk di masa lalu.
    • Wayang kulit dan topeng: Menggambarkan seni pertunjukan dan kebudayaan lokal Nganjuk.
    • Genta: Alat musik atau penanda yang juga menjadi bagian dari warisan budaya.
    • Serpihan uang koin: Koleksi numismatik ini memberikan petunjuk tentang sistem perdagangan dan ekonomi pada masa lampau.
    • Boneka Lara Bengok: Salah satu koleksi unik yang sering menjadi daya tarik pengunjung untuk berswafoto.
  • Benda Cagar Budaya Zaman Kerajaan Doho dan Majapahit: Selain era Hindu-Buddha awal, museum ini juga memiliki benda-benda dari masa Kerajaan Doho dan Majapahit, menunjukkan kesinambungan peradaban di Nganjuk.
  • Artefak Kolonial dan Foto Sejarah: Melengkapi koleksi, museum juga menyimpan artefak dari masa kolonial serta foto-foto sejarah yang mendokumentasikan perkembangan Nganjuk.

Museum Dr. Soetomo Kabupaten Nganjuk

Kabupaten Nganjuk, khususnya Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, memiliki jejak sejarah yang kuat terkait dengan kelahiran seorang pahlawan nasional, Dr. Soetomo. Untuk menghormati dan mengenang jasa-jasa beliau, di Nganjuk didirikan Monumen Dr. Soetomo, dan di dekatnya, sebuah Museum Dr. Soetomo yang fokus pada kehidupan dan perjuangan beliau.

Museum ini terletak di area yang berdekatan dengan Monumen Dr. Soetomo di Desa Ngepeh. Meskipun ukurannya mungkin tidak sebesar museum lain yang lebih besar, museum ini menyimpan koleksi yang didedikasikan untuk memberikan gambaran tentang sosok Dr. Soetomo semasa hidupnya, terutama terkait dengan awal mula perjalanan hidupnya di Nganjuk dan kiprah beliau sebagai seorang dokter serta pendiri organisasi pergerakan nasional, Budi Utomo.

Koleksi di Museum Dr. Soetomo Nganjuk cenderung berfokus pada aspek personal dan profesional Dr. Soetomo, terutama yang terkait dengan masa mudanya dan praktik kedokterannya:

Peralatan Medis Lama: Salah satu koleksi ikonik yang dapat ditemukan di museum ini adalah peralatan medis antik. Beberapa di antaranya bahkan merupakan peralatan asli peninggalan Dr. Soetomo yang digunakan saat beliau membuka praktik di era kolonial Hindia Belanda. Alat-alat ini, meski terlihat kusam dan kuno, memberikan gambaran nyata tentang kondisi pelayanan kesehatan di masa itu.

Patung Dr. Soetomo: Museum ini dilengkapi dengan patung Dr. Soetomo yang digambarkan sedang duduk, dengan salah satu tangannya diletakkan di atas buku. Patung ini menjadi representasi visual dari sosok intelektual dan pejuang yang berdedikasi.

Foto dan Dokumentasi: Meskipun informasi spesifik tentang jumlah dan jenisnya terbatas, kemungkinan besar museum ini juga menyimpan foto-foto dan dokumen terkait kehidupan Dr. Soetomo, mulai dari masa kecilnya di Nganjuk, perjalanan pendidikannya, hingga perjuangannya di Budi Utomo.

Informasi Latar Belakang: Museum ini berfungsi sebagai sarana informasi untuk masyarakat, terutama pelajar, agar lebih mengenal dan memahami peran Dr. Soetomo sebagai putra daerah Nganjuk yang menjadi pahlawan nasional. Beberapa sumber menyebutkan adanya lukisan berukuran cukup besar yang terpampang di depan pintu masuk bangunan museum, yang kemungkinan menggambarkan adegan penting dalam hidup beliau.

Penting untuk dicatat bahwa Museum Dr. Soetomo di Nganjuk berbeda dengan Museum Dr. Soetomo yang berada di dalam kompleks RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Museum di Surabaya lebih berfokus pada sejarah rumah sakit dan perkembangan kedokteran di Indonesia secara umum, di samping mengenang jasa Dr. Soetomo. Sementara itu, Museum Dr. Soetomo di Nganjuk lebih spesifik menyoroti jejak dan peninggalan pribadi Dr. Soetomo di kampung halamannya.

Museum Dr. Soetomo di Nganjuk adalah destinasi penting bagi mereka yang ingin menelusuri akar perjuangan dan kehidupan seorang pahlawan nasional dari tempat asalnya, sekaligus menjadi pengingat akan kontribusi Nganjuk dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia.

Candi Lor Jejak Sejarah Prabu Airlangga di Nganjuk

Candi Lor adalah salah satu situs purbakala penting yang terletak di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Tepatnya berada di Desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Nganjuk. Candi ini memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi karena dipercaya kuat sebagai peninggalan Raja Airlangga, salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Jawa kuno.

Candi Lor bukanlah candi batu layaknya candi-candi besar lain di Jawa Tengah atau Jawa Timur pada umumnya. Keunikan utama candi ini terletak pada bahan bangunannya yang terbuat dari bata merah, menunjukkan gaya arsitektur yang khas dari periode Jawa Timur kuno. Meskipun usianya sudah sangat tua, sekitar 10 abad, Candi Lor masih berdiri tegak, meski hanya tersisa bagian reruntuhan dan pondasinya. Keberadaannya menjadi saksi bisu kejayaan masa lalu.

Keterkaitan Candi Lor dengan Prabu Airlangga sangat kuat. Diyakini bahwa candi ini didirikan pada abad ke-10 Masehi, pada masa pemerintahan Airlangga, yang merupakan raja dari Kerajaan Kahuripan. Beberapa sumber sejarah, termasuk Prasasti Cane, menyebutkan nama Desa Candirejo (tempat Candi Lor berada) yang kala itu menjadi tempat peristirahatan Raja Airlangga. Ini mengindikasikan bahwa Candi Lor kemungkinan besar dibangun sebagai tempat pemujaan atau simbol keagamaan pada masa pemerintahan beliau.

Airlangga adalah sosok yang dikenal sebagai raja yang bijaksana dan berhasil menyatukan kembali sebagian besar wilayah Jawa setelah kekacauan pasca runtuhnya Kerajaan Medang. Peninggalan-peninggalannya, termasuk Candi Lor, memberikan gambaran tentang kehidupan keagamaan dan arsitektur pada masa itu.

Saat ini, Candi Lor tidak lagi berbentuk utuh seperti candi pada masa kejayaannya. Yang tersisa hanyalah struktur pondasi dan sebagian kecil dinding bata merah yang masih berdiri, membentuk sebuah gubug sederhana di tengah hamparan sawah. Meskipun demikian, sisa-sisa reruntuhan ini tetap memberikan petunjuk berharga mengenai bentuk dan ukuran asli candi.

Pemerintah setempat telah melakukan upaya pelestarian dengan membangun pendopo atau atap pelindung di atas reruntuhan candi. Ini bertujuan untuk melindungi sisa-sisa bangunan dari pengaruh cuaca dan kerusakan lebih lanjut, sekaligus memudahkan pengunjung untuk mengamati sisa struktur candi. Di sekitar area candi, sering ditemukan pula fragmen-fragmen arca atau relief yang sudah tidak utuh, menambah kekayaan arkeologis situs ini.

Suasana di sekitar Candi Lor umumnya tenang dan asri, dikelilingi oleh area persawahan yang hijau, menjadikannya tempat yang cocok untuk refleksi sejarah dan menikmati ketenangan alam. Meskipun tidak sepopuler candi-candi besar lainnya, Candi Lor tetap menjadi destinasi penting bagi para sejarawan, arkeolog, maupun wisatawan yang tertarik dengan jejak peradaban kuno di Jawa Timur, khususnya era Prabu Airlangga.

Candi Ngetos Peninggalan Masa Raja Hayam Wuruk

Candi Ngetos memiliki latar belakang sejarah yang kuat terkait dengan salah satu raja terbesar Majapahit, yaitu Raja Hayam Wuruk. Menurut beberapa sumber dan cerita rakyat, candi ini dibangun atas perintah Hayam Wuruk sendiri sebagai tempat pendharmaan atau penyimpanan abu jenazahnya setelah beliau wafat. Keinginan Hayam Wuruk untuk didharmakan di Ngetos konon karena wilayah ini masih termasuk kekuasaan Majapahit dan lokasinya yang menghadap Gunung Wilis, yang dianggap setara dengan Gunung Mahameru.

Pembangunan candi ini diperkirakan dilakukan oleh Empu Sakti Supo atas penugasan Raden Ngabei Selopurwoto (paman Hayam Wuruk yang menjadi raja di Ngatas Angin). Fungsi Candi Ngetos pada masanya adalah sebagai tempat pemujaan roh leluhur dan para dewa, khususnya yang berkaitan dengan kepercayaan Siwa-Wisnu, sesuai dengan agama yang dianut oleh Hayam Wuruk.

Candi Ngetos dibangun menggunakan material bata merah, yang merupakan ciri khas arsitektur candi di Jawa Timur pada masa Majapahit. Sistem pembangunannya terbilang unik, yaitu dengan menumpuk batu bata hingga ketinggian tertentu, lalu dilanjutkan dengan mengukirnya dari atas ke bawah.

Meskipun saat ini candi Ngetos sudah tidak utuh dan banyak bagiannya telah hilang, sisa-sisa strukturnya masih dapat terlihat. Bangunan induk candi yang tersisa memiliki ukuran: Panjang: 9,1 meter, Tinggi Badan: 5,43 meter, Tinggi Keseluruhan: 10 meter, Saubasemen (alas): 3,25 meter, Besar Tangga Luar: 3,75 meter, Lebar Pintu Masuk: 0,65 meter, Tinggi Undakan menuju Ruang Candi: 2,47 meter, Ruang Dalam: 2,4 meter.

Candi ini memiliki bilik yang terletak tepat di tengah denah dasar bangunan, dengan dasar biliknya lebih rendah dari ambang pintu. Sisa tangga ditemukan di sebelah barat, menunjukkan bahwa candi ini menghadap ke barat. Dahulu, Candi Ngetos diperkirakan dikelilingi oleh tembok berbentuk bulat cincin. Atap candi diperkirakan terbuat dari kayu, namun kini sudah tidak ada bekasnya.

Yang menarik, ditemukan pula relief mirip salib Portugis di candi ini, meskipun makna pastinya masih menjadi perdebatan para ahli. Candi Ngetos dahulu juga diketahui memiliki arca Siwa dan Wisnu, yang semakin menguatkan dugaan latar belakang keagamaan Hindu Siwa-Wisnu, namun arca-arca tersebut saat ini sudah tidak ada lagi.

Mengingat lokasinya yang berada di lereng, kemungkinan halaman candi ini bertingkat-tingkat dan bangunan utamanya terletak di tingkat halaman atas.

Kabupaten Nganjuk adalah permata sejarah di Jawa Timur, kaya akan peninggalan dari berbagai periode peradaban, mulai dari masa klasik Hindu-Buddha, Islamisasi, hingga kolonialisme. Berbagai situs seperti Masjid Al-Mubarok Berbek, Museum Anjuk Ladang, Museum Dr. Soetomo Nganjuk, Candi Lor, dan Candi Ngetos menjadi bukti kuat eksistensi peradaban yang telah lama mengakar di wilayah ini. Untuk menghidupkan dan memaknai kekayaan sejarah ini, khususnya bagi generasi muda, inisiatif “Traveling Vintage Kabupaten Nganjuk” digagas oleh sejarawan lokal Anna Nur Nita. Program edukatif ini secara langsung melibatkan ratusan pelajar SMA, mengajak mereka menyusuri jejak-jejak masa lalu, memahami konteks historis, dan merasakan langsung atmosfer peninggalan budaya. Melalui kolaborasi lintas komunitas dan panduan dari para ahli, “Traveling Vintage” tidak hanya menjadi sarana pembelajaran yang interaktif dan partisipatif, tetapi juga upaya nyata untuk menumbuhkan rasa cinta, kebanggaan, dan tanggung jawab generasi muda terhadap warisan leluhur mereka, memastikan bahwa sejarah Nganjuk akan terus lestari dan menginspirasi.

LEAVE A REPLY