InfoBudaya – Desa Badean kembali menjadi perhatian dalam pembacaan sejarah lokal Kabupaten Jember. Selama ini, desa tersebut dikenal masyarakat sebagai wilayah yang menyimpan beragam jejak peninggalan masa lampau, mulai dari temuan gerabah, batu berlubang, patung perempuan, hingga berbagai tinggalan tradisi dan manuskrip yang masih bertahan di tengah masyarakat. Jejak-jejak itu membuat Badean tidak hanya dipandang sebagai ruang geografis biasa, tetapi sebagai kawasan yang menyimpan lapisan peradaban kuno yang belum sepenuhnya terbaca.

Upaya menelusuri kembali jejak sejarah tersebut diwujudkan melalui Workshop Aksara Pegon yang dilaksanakan pada Hari Sabtu, 09 Mei 2026 di Aula Wisata Puncak Badean, Desa Badean. Workshop ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan yang bertajuk “Lereng Selatan Gunung Hyang: Peradaban Kuno Desa Badean Kabupaten Jember”, sebuah program yang berupaya membuka kembali ruang diskusi mengenai hubungan antara warisan budaya, manuskrip, dan identitas sejarah masyarakat lokal.
Baca Juga : Membaca Sejarah dari Desa: Jejak Panjang Badean di Lereng Argopuro
Achmadana Syachrizal Muzibarrochman Firdaus, M.Ag., sebagai inisiator kegiatan tersebut, melalui kolaborasi bersama Yayasan Kulit Pohon serta Yayasan Lingkar Studi Sejarah dan Kebudayaan Murtasiya. Di sisi lain pelaksanaan kegiatan turut mendapat dukungan Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia sebagai bagian dari upaya penguatan ekosistem kebudayaan dan pelestarian pengetahuan lokal.
Penyelenggara memilih Desa Badean sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Selain dikenal memiliki banyak peninggalan sejarah, desa tersebut juga masih menyimpan tradisi masyarakat yang kuat. Hal itu menjadikan Badean sebagai ruang yang relevan untuk membicarakan hubungan antara warisan budaya fisik dan tradisi literasi.
Baca Juga : Ritual Penti di Flores: Warisan Budaya Unik yang Penuh Makna
Melalui workshop ini, penyelenggara ingin memperlihatkan bahwa penelusuran sejarah lokal tidak hanya dilakukan melalui ekskavasi benda purbakala atau penelitian arkeologi, tetapi juga melalui pembacaan manuskrip dan tradisi tulis yang hidup di masyarakat. Pegon dipandang sebagai salah satu pintu masuk untuk memahami bagaimana masyarakat masa lalu membangun sistem pengetahuan mereka sendiri.
Berbeda dari pendekatan sejarah yang hanya berfokus pada benda peninggalan fisik, workshop ini mencoba menghubungkan penemuan-penemuan sejarah di Desa Badean dengan tradisi literasi masyarakat masa lalu. Pegon dipilih sebagai media pembahasan karena aksara tersebut pernah memiliki peran penting dalam kehidupan intelektual masyarakat Jawa dan Madura, terutama dalam tradisi pesantren dan penyebaran ilmu pengetahuan lokal.
Inisiator menyebutkan, tentang keberadaan berbagai peninggalan sejarah di Badean menunjukkan bahwa kawasan tersebut memiliki hubungan panjang dengan perkembangan budaya masyarakat masa lampau. Namun ia menilai, pembacaan sejarah lokal tidak cukup hanya berhenti pada penemuan benda purbakala semata.
Baca Juga : Kearifan Budaya Dari Sudut Pandang Filsafat
“Peradaban tidak hanya meninggalkan artefak, tetapi juga meninggalkan cara berpikir, cara menulis, dan cara masyarakat menyimpan pengetahuan. Karena itu manuskrip dan aksara juga penting untuk dibaca kembali,” ujarnya saat membuka kegiatan.

Ia menjelaskan bahwa banyak masyarakat mengenal sejarah melalui benda-benda yang ditemukan dari dalam tanah, tetapi jarang memperhatikan jejak intelektual yang tersimpan dalam manuskrip atau tradisi tulis. Padahal menurutnya, aksara seperti Pegon juga menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana masyarakat Nusantara membangun pengetahuan dan mewariskannya dari generasi ke generasi.
Workshop yang menghadirkan Fiqru Mafar, M.IP., sebagai pemateri utama. Dalam sesi pemaparannya, ia membahas perkembangan Pegon dalam sejarah literasi Nusantara sekaligus menjelaskan hubungan aksara tradisional dengan pembacaan sejarah lokal masyarakat Jawa-Madura.
“Ketika kita membaca manuskrip Pegon, sebenarnya kita sedang membaca cara masyarakat dulu memahami dunia. Di dalamnya bukan hanya ada teks agama, tetapi juga pengetahuan sosial, pendidikan, hingga nilai budaya masyarakat,” jelasnya di hadapan peserta workshop.
Ia juga menyoroti bahwa banyak manuskrip lokal saat ini berada dalam kondisi rentan. Selain faktor kerusakan fisik, minimnya jumlah pembaca Pegon membuat banyak teks lama kehilangan konteks sosialnya. Situasi tersebut dinilai menjadi tantangan besar dalam pelestarian warisan budaya Nusantara.
Workshop diperuntukkan bagi masyarakat umum dan mengundang berbagai kalangan, mulai dari pegiat budayawan Jember, mahasiswa sejarah, komunitas literasi, hingga instansi pemerintah seperti Dinas Pemuda, Olahraga, Budaya dan Pariwisata Kabupaten Jember. Kehadiran berbagai unsur tersebut membuat kegiatan berkembang menjadi ruang dialog yang mempertemukan perspektif akademik, budaya, dan masyarakat secara langsung.
Selama kegiatan berlangsung, peserta tidak hanya menerima penjelasan teoritis mengenai Pegon. Mereka juga diajak mencoba membaca dan menulis aksara tersebut secara langsung. Dalam sesi praktik, peserta mulai mengenali pola tulisan Pegon yang selama ini banyak ditemukan dalam manuskrip pesantren dan catatan masyarakat tradisional Jawa-Madura.
Diskusi berkembang lebih luas ketika pembahasan mengenai aksara dihubungkan dengan sejarah Desa Badean sendiri. Beberapa peserta menilai bahwa keberadaan berbagai peninggalan budaya di desa tersebut memperlihatkan kemungkinan adanya jaringan pengetahuan dan tradisi masyarakat yang berkembang sejak lama. Manuskrip, tradisi lisan, dan aksara menjadi bagian penting untuk membaca dimensi intelektual dari peradaban lokal yang pernah tumbuh di kawasan itu.
Menjelang akhir kegiatan, suasana diskusi tetap berlangsung aktif. Sejumlah peserta membicarakan kemungkinan pendataan manuskrip lokal, pengembangan kelas Pegon lanjutan, hingga penelitian lebih jauh mengenai hubungan peninggalan sejarah Badean dengan perkembangan budaya masyarakat di kawasan lereng Gunung Hyang.
Workshop Aksara Pegon menjadi lebih dari sekadar kegiatan belajar aksara tradisional. Dari Desa Badean, upaya membaca kembali peradaban kuno dilakukan melalui pendekatan yang lebih luas, yaitu dengan menghubungkan artefak sejarah, manuskrip, dan tradisi literasi masyarakat dalam satu rangkaian pemahaman budaya. Di tengah berbagai peninggalan masa lalu yang masih tersimpan di desa tersebut, workshop ini menjadi langkah awal untuk membuka kembali percakapan mengenai bagaimana masyarakat Badean dahulu hidup, belajar, dan membangun warisan intelektualnya bagi generasi hari ini.
Penulis: Aida Nurul Hanifah





















