Home Budaya Ritual Ma’Nene (Mayat Berjalan) di Toraja

Ritual Ma’Nene (Mayat Berjalan) di Toraja

390
0
SHARE

Selain keindahan alam, masih ada tradisi-tradisi yang menarik perhatian masyarakat, baik warga sekitar Toraja, maupun wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Toraja dan bertepatan dengan Kegiatan Ma’Nene.

Kapan tepatnya kegiatan tersebut diadakan?

Image : selipancom info-budaya-ritual-manene-toraja
Image : selipancom
info-budaya-ritual-manene-toraja

Biasanya kegiatan tersebut pada bulan agustus, atau tergantung dari keluarga yang bersangkutan.

Tapi proses ini sebenarnya hanya melanjutkan ritual lama yang terjadi sebelum Toraja kehilangan daerah mereka akibat penjajahan Belanda.

Pada umumnya orang Toraja adalah orang yang sangat terisolasi. Desa mereka dibangun di dari satu keluarga, yang pada akhirnya membuat setiap orang di desa menjadi anggota keluarga.

Mengenal budaya Indonesia serta mengenal kearifan lokal, baik  seni seperti alat musik, tari-tarian pakaian, seperti masyarakatnya, baik awal mula terbentuknya letak lokasi.

Meskipun orang Toraja akan melakukan perjalanan dari desa ke desa dan keluarga ke keluarga, mereka tidak akan terlalu jauh keluar dari alam tempat mereka berada.

Alasan untuk kehati-hatian ini adalah karena orang Toraja percaya bahwa ketika mereka meninggal, roh akan berlama-lama di sekitar tubuh sebelum bisa dipandu ke ‘Puya’, tanah tempat jiwa-jiwa berada.

Agar hal ini terjadi, tubuh harus berada bersama keluarga agar prosesnya terjadi. Jika seseorang berada jauh di luar wilayah saat mereka meninggal, mereka mungkin tidak ditemukan dan roh mereka akan bertahan selamanya dengan tubuh.

Keunikan Ma’ Nene

Image : selipancom info-budaya-ritual-manene-toraja
Image : selipancom
info-budaya-ritual-manene-toraja

Begitu mayat berjalan ditemukan, orang-orang akan berlari ke depan untuk memperingatkan orang lain bahwa mayat menuju ke arah mereka. Ini bukan karena ketakutan, melainkan aspek lain dari ritual tersebut, untuk memastikan mayat akan membuat jalan pulang sesegera mungkin.

Jika ada yang melakukan komunikasi langsung dengan jenazahnya, jenazahnya pasti akan runtuh ke tanah dan tak bernyawa lagi. Orang yang bersama mayat akan menceritakan semua yang ada di jalannya bahwa ini memang mayat yang berjalan, dan bukan untuk melakukan kontak.

Begitu jenazah telah menyelesaikan perjalanannya, mayat itu dibungkus dan diletakkan di tempat yang aman, biasanya di sebuah ruangan di bawah rumahnya. Untuk kelas atas, jenazah akan terbaring di antara tiang Tongkonan mereka, rumah leluhur yang ditinggikan.

Di sini tubuh akan menunggu pesta penguburan, bisa dalam beberapa hari atau terkadang berbulan-bulan. Pesta itu bisa sangat mahal, dan semakin tinggi kelas di keluarga, semakin mahal pesta. Pesta itu akan dihadiri oleh ribuan orang Toraja, dan bisa bertahan berhari-hari, dan termasuk perkelahian ayam, pembantaian kerbau dan ayam.

Image : selipancom info-budaya-ritual-manene-toraja
Image : selipancom
info-budaya-ritual-manene-toraja

Pada akhir pesta, jasad akan dicuci, dipersiapkan dan berpakaian, untuk akhirnya dibawa ke tempat peristirahatannya. Menurut legenda, di masa lalu, jenazah akan berjalan menuju tempat peristirahatannya. Umumnya tubuh akan ditempatkan di peti mati ditempatkan di sebuah gua di atas tebing atau di bagian tebing yang lubangi. Jika almarhum adalah anak, peti mati akan ditangguhkan dari sisi tebing melalui tali dan tanaman merambat, yang akhirnya akan jatuh ke tanah.

Namun kegiatan tersebut sudah jarang di temukan karena sebagian besar orang Toraja beragama Kristen yang menganggap kegiatan tersebut tidak seiring dengan keyakinan mereka.

LEAVE A REPLY