Home Budaya Event Budaya Tahunan di Indonesia, Toraja salah satunya

Event Budaya Tahunan di Indonesia, Toraja salah satunya

6469
0
SHARE

Banyaknya Suku dan keragaman budaya di Indonesia kaya akan kegiatan kebudayaan yang dapat memajukan pariwisata di Indonesia. Adat dan istiadat di Indonesia merupakan ciri khas yang dimiliki hal tersebut terjadi karena Indonesia di bentuk karena persatuan kerajaan-kerajaan yang ada sepakat mendirikan negara Indonesia.

Hal tersebut tidak dimiliki oleh negara lain. Walaupun belum semua daerah di Indonesia membuat agenda event tahunan festival budaya dan semoga kedepan dapat menjadi salah satu prioritas untuk memajukan pariwisata dan memperkenalkan kebudayaan kita sampai ke mancanegara.
Ada beberapa kebudayaan di Indonesia yang telah masuk dalam agenda event tahunan di Indonesia.

Masyarakat Pariman punya kegiatan tahunan yaitu festival Tabuk (Image : Youtube chanel Surya Mahmud)
  1. Festival Tabuik

Masyarakat Pariman punya kegiatan tahunan yaitu festival Tabuk, yang telah berlangsung sejak puluhan tahun lalu (Kira-kira Abad 19 Masehi). Kegiatan Tabuk ini merupakan bagian dari peringatan hari wafatnya cucu Nabi Muhammad SAW, yaitu Hussein bin Ali yang jatuh pada tanggal 10 Muharram.

Dalam Bahasa arab ‘tabut’ yang bermakna peti kayu, mengacu pada legenda tentang kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq. Legenda tersebut mengisahkan bahwa setelah wafatnya sang cucu Nabi, kotak kayu berisi potongan jenazah Hussein diterbangkan ke langit oleh buraq. Berdasarkan legenda inilah, setiap tahun masyarakat Pariaman membuat tiruan dari buraq yang sedang mengusung tabut di punggungnya.

Tabuik digolongkan dalam dua macam yaitu, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. (Image : Youtube chanel Surya Mahmud)

Tabuik digolongkan dalam dua macam yaitu, Tabuik Pasa dan Tabuik Subarang. Yang berasal dari dua daerah yang berbeda di Pariaman.
Tabuik Pasa (pasar) merupakan wilayah yang berada di sisi selatan dari sungai yang membelah kota tersebut hingga ke tepian Pantai Gandoriah. Wilayah Pasa dianggap sebagai daerah asal muasal tradisi tabuik.

Adapun tabuik subarang berasal dari daerah subarang (seberang), yaitu wilayah di sisi utara dari sungai atau daerah yang disebut sebagai Kampung Jawa.

Dalam Bahasa arab ‘tabut’ yang bermakna peti kayu, mengacu pada legenda tentang kemunculan makhluk berwujud kuda bersayap dan berkepala manusia yang disebut buraq (Image : Youtube chanel Surya Mahmud)

Rangkaian tradisi tabuik di Pariaman terdiri dari tujuh tahapan ritual tabuik, yaitu mengambil tanah, menebang batang pisang, mataam, mengarak jari-jari, mengarak sorban, tabuik naik pangkek, hoyak tabuik, dan membuang tabuik ke laut.

2. Festival Reog Ponorogo

Festival Reog Nasional di Alun-Alun Ponorogo dalam rangka Grebeg Suro. Festival ini diikuti oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia (Image : qolbunhadi.com)

Seperti halnya festival tabuik di Pariaman yang diadakan menyambut tahun baru Islam, masyarakat Ponorogo Jawa Timur juga menggelar Festival Reog Nasional di Alun-Alun Ponorogo dalam rangka Grebeg Suro. Festival ini diikuti oleh berbagai peserta dari seluruh Indonesia. Diantaranya ada dari Jogja, Gunungkidul, Madiun, Malang, Kediri, Surabaya dan daerah lainnya.

Kesenian Reog menjadi ikon kebanggaan masyarakat Ponorogo dan hingga kini masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat. Festival Reog Ponorogo juga di rangkaikan dengan kegiatan lainnya, yang menjadi ciri khas dari daerah tersebut.

3. Dieng Culture Festival

Daratan yang dijuluki tanah dewa memberikan pesona setiap tahunnya (Image : JAGAD 9 GIMBAL)

Daratan yang dijuluki tanah dewa memberikan pesona setiap tahunnya. Dieng Culture Festival yang diadakan setiap bulan agustus, telah terkenal sampai ke mancanegara

Tak lupa pula upacara adat yang ditunggu-tunggu dalam DCF yaitu acara ruwatan atau pemotongan rambut bocah gimbal. (Image : JAGAD 9 GIMBAL)

Festival tahunan yang berisi pertunjukan seni tradisi nusantara, pameran kerajinan khas Dieng, festival film, pesta lampion, hingga menyaksikan pagelaran “Jazz di atas Awan” di tengah hawa dingin khas Dieng. Tak lupa pula upacara adat yang ditunggu-tunggu dalam DCF yaitu acara ruwatan atau pemotongan rambut bocah gimbal.

4. Festival Erau

Festival Erau dulu, dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi Kota Tenggarong setiap 29 September. (Image : Youtube chanel donispro pictures)

Festival Erau dulu, dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi Kota Tenggarong setiap 29 September. Namun, mulai tahun 2010 pelaksanaan Erau dilakukan pada bulan Juli untuk menyesuaikan dengan musim liburan agar banyak wisatawan yang datang.

Baca : Hastag Jangan Meninggal Sebelum Ke Toraja

Festival Erau dimeriahkan oleh aneka kesenian, upacara adat dari Suku-suku Dayak, dan lomba olahraga ketangkasan tradisional.

Festival Erau diperkirakan telah berlangsung sejak masa awal Kesultanan Kutai berdiri. (Image : Youtube chanel donispro pictures)

Festival Erau diperkirakan telah berlangsung sejak masa awal Kesultanan Kutai berdiri. Tradisi tahunan ini telah berlangsung selama berabad-abad, seiring perjalanan sejarah Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.
Tahun 2013, festival Erau disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara dalam acara Erau International Folklore and Art Festival (EIFAF).

Kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai bersanding dengan warisan budaya dunia dari berbagai negara. Hal tersebut menjadi ajang pengenalan kebudayaan Kutai kepada dunia internasional.

5. Festival Adat Rambu Solo

Rambu Solo adalah kegiatan atau prosesi mengantarkan Jenasah ke Alam Puya (Nirwana)

Di Sulawesi Selatan tepatbya di Toraja kegiatan Kebudayaan yang merupakan tradisi yang diadakan turun-temurun ini adalah prosesi pemakaman jenasah yang lebih di kenal dengan Rambu Solo.

Rambu Solo adalah kegiatan atau prosesi mengantarkan Jenasah ke Alam Puya (Nirwana), dalam kegiatan ini keluarga dari almahum datang membawa tanda mata seperti kerbau, babi yang dipergunakan dalam kegiatan tersebut.

Ma’ lambuk salah satu kegiatan Rambu Solo di Toraja

Salah satu daya Tarik pada Festival Rambu Solo ini adalah Ma’ Palao yaitu saat Jenasah diantar dari alang (lumbung padi) ke Lakian (tempat menyimpan Jenasah sebelum dimakamkan). Disamping itu kegiatan adu kerbau juga menjadi salah satu daya Tarik tersendiri bagi wisatawan yang menyaksikan kegiatan Rambu Solo tersebut.
Dan masih banyak rangkaian kegiatan lainnya yang dapat anda saksikan.

6. Festival Budaya Lembah Baliem

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) merupakan acara perang-perangan antarsuku (Image : Youtube chanel stonecold motionpictures)

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) merupakan acara perang-perangan antarsuku Papua yang dilakukan sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan. Suku-suku asli Papua yang tersebar di beberapa lokasi akan berkumpul di lembah ini saat festival berlangsung mulai dari Suku Dani, Suku Yali, hingga Suku Lani

Baca : Wisata Religi Toraja Burake

Festival Budaya Lembah Baliem (FBLB) pertama kali diselenggarakan tahun 1989. Sejak saat itu FBLB rutin diadakan setiap tahunnya pada pertengahan tahun (Juni/Juli/Agustus).

Keindahan Lembah Baliem menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta fotografer (Image : Youtube chanel stonecold motionpictures)

Keindahan Lembah Baliem menjadi daya tarik tersendiri bagi pecinta fotografer, dimana lembah Baliem terletak di ketinggian 1600 mdpl Pegunungan Jayawijaya dengan lebar sekitar 80 km.

7. Festival Pasola

Melalui Festival Pasola, kamu akan diajak melihat kelihaian para penunggang kuda saling serang menggunakan senjata sejenis lembing kayu (Image : Youtube chanel Explore Sumba)

Melalui Festival Pasola, kamu akan diajak melihat kelihaian para penunggang kuda saling serang menggunakan senjata sejenis lembing kayu yang disebut Pasola.

Baca : Legenda Pegunungan di Pulau Jawa

Pasola merupakan bagian dari serangkaian upacara tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Sumba untuk menyambut masa panen dan masa tanam di Pulau Sumba, NTB. Permainan pasola diadakan pada empat kampung di kabupaten Sumba Barat. Keempat kampung tersebut antara lain Kodi, Lamboya, Wonokaka, dan Gaura.

Melalui Festival Pasola, kamu akan diajak melihat kelihaian para penunggang kuda saling serang menggunakan senjata sejenis lembing kayu (Image : Youtube chanel Explore Sumba)

Pasola diawali dengan adat nyale yaitu mencari cacing-cacing laut yang dilaksanakan pada bulan purnama dan ritual pajura (adu tinju di tepi pantai) pada dini hari.

Baca : Pesona Pulau Samalona

Walaupun puncak Pasola tampaknya penuh kekerasan, turnamen ini merupakan bagian dari kepercayaan tradisional Marapu tentang Sumba, dimana Pasola merupakan bagian tak terpisahkan dari ritual tahunan yang diselenggarakan bersamaan dengan ritual Bau Nyale (serupa dengan di Pulau Lombok) atau kedatangan badai salju di sepanjang pantai Sumba, yang biasanya terjadi pada bulan Februari dan Maret.

LEAVE A REPLY