Home Wisata Air Terjun Sedudo dan Maknanya

Air Terjun Sedudo dan Maknanya

467
0
SHARE
Info Budaya air terjun sedudo
Info Budaya air terjun sedudo

Sedudo merupakan kawasan wisata air terjun yang terletak di lereng utara pegunungan Wilis. Cerita rakyat yang berkembang Sedudo berarti “sing mendudo” (Jawa : yang melajang), merupakan penggalan janji sepasang kekasih yang patah hati dan pergi bersemedi di air terjun Sedudo dan Singokromo.

Info Budaya air terjun sedudo
Info Budaya air terjun sedudo

Kawasan Sedudo terletak di desa Ngliman, kecamatan Sawahan dan berada pada ketinggian 1.438m dpl (meter diatas permukaan laut), menjadikan kawasan ini berhawa sejuk. Kawasan yang berada ± 30km selatan Kota ini, merupakan pusat wisata air terjun di kabupaten Nganjuk.

Mengenal budaya Indonesia serta mengenal kearifan lokal, baik  seni seperti alat musik, tari-tarian pakaian, seperti masyarakatnya, baik awal mula terbentuknya letak lokasi. 

Wisata alam Sedudo menyajikan pemandangan air – air terjun nan elok, terdapat sekitar 10 air terjun (Air terjun Singokromo, Air terjun Segunting, Air terjun Cagak, Air terjun Selawe, Air terjun Jeruk, Air terjun Selanjur, Air terjun Banyuiber, Air terjun Banyuapit, dan Air terjun Banyu Cemoro Kandang) dengan maskotnya Grojogan Sedudo (Jawa : air terjun Sedudo).

Info Budaya air terjun sedudo
Info Budaya air terjun sedudo

Air Terjun Sedudo berasal dari proses alam dengan sumber mata air yang berasal dari gunung Wilis (2.552 mdpl). Memiliki kecepatan luncur 41-15 debet/liter dan 10-15 kecepatan liter/detik, serta dengan ketinggian 105 m, menjadikan wisata air terjun ini menjadi 1 dari 10 air terjun tertinggi di Indonesia.

Disamping itu, air terjun Sedudo juga telah meraih penghargaan sebagai Anugerah Wisata Jawa Timur tahun 2011 untuk kategori Obyek Wisata Alam. Mitos yang berkembang di masyarakat, mandi di sini dapat membuat awet muda dan memperoleh berkah keselamatan.

Info Budaya air terjun sedudo
Info Budaya air terjun sedudo

Mitos ini berkembang dalam berbagai ritual setiap bulan Suro (Penanggalan Jawa untuk tahun baru Islam, 1 Muharram). Upacara Siraman Sedudo (Upacara Prana Prathista), Jamasan Pusaka dan Gembyangan Waranggana, merupakan kearifan lokal yang berlangsung secara turun temurun sejak jaman kerajaan Majapahit.

LEAVE A REPLY