Home Wisata RANU KLAKAH-Menyisir eksoktika danau vulkanik

RANU KLAKAH-Menyisir eksoktika danau vulkanik

1934
0
SHARE
Info Budaya Indonesia Ranu Klaka
Info Budaya Indonesia Ranu Klaka 1

Info Budaya : Kabut tipis yang menyelimuti puncak gunung Lamongan turun perlahan digantikan kehangatan sang surya yang menyinari permukaan Ranu Klakah.

Info Budaya Indonesia Ranu Klaka
Info Budaya Indonesia Ranu Klaka

Hawa sejuk permukaan danau yang terletak di ketinggian 900 mdpl (meter diatas permukan laut) ini perlahan naik seolah membangunkan para petani keramba untuk bergegas turun ke danau memberi makan ikan – ikan.

Baca : Transformasi Akar Budaya

Ranu Klakah yang berarti danau Klakah merupakan salah satu dari 3 rangkaian segitiga ranu yang umumnya menjadi tujuan pertama wisatawan sebelum menuju Ranu Bedali dan Ranu Pakis. Ketiga danau ini memiliki letak yang saling berdekatan, Ranu Pakis ditempuh sekitar 10 menit dengan kendaran bermotor dan Ranu Bedali terletak ± 6 km dari Ranu Klakah.

Aksesbilitas menuju Ranu Klakah relatif mudah dilewati kendaraan bermotor roda dua roda empat. Infrastruktur disekitar danau yang terletak 20 km arah utara kota Lumajang ini cukup memadai, selain penginapan yang berjarak hanya beberapa ratus meter dari danau, juga terdapat sekitar 6 warung makan khas pedesaan yang berdiri melingkari permukaan danau.

Info Budaya Indonesia Ranu Klaka
Info Budaya Indonesia Ranu Klaka

Menu utama warung ini merupakan hasil tangkapan langsung dari danau dengan kedalaman 28 meter. Selain menikmati panorama danau, wisatawan dapat menikmati rekreasi memancing di danau.

Bagi wisatawan luar kota Lumajang yang menggunakan transportasi umum, akses tercepat dari dan menuju Ranu Klakah adalah kereta api yang dapat ditempuh sekitar 15 menit dari stasiun Klakah. Danau yang dikelola oleh dinas pariwisata kota Lumajang ini juga menyediakan perahu bermotor yang dapat digunakan untuk menikmati panorama danau dari dekat dengan tarif mulai dari sepuluh hingga tiga puluh ribu per lima belas menit.

Baca : Ini Alasan Ider Bumi, Using Banyuwangi DiLaksanakan

Sebelum menjadi daerah tujuan wisata, seringkali petani keramba dan penjala ikan mengalami persinggungan dengan pihak pengelola, karena keramba – keramba mereka dianggap mencemari pemandangan danau.

Namun para petani ikan tersebut tetap bersikukuh mempertahankan, karena keramba dan danau merupakan satu satunya sumber penghidupan mereka.

Meskipun tidak berpendidikan tinggi, petani keramba yang sebagian besar merupakan etnis Madura/pandalungan ini cukup memiliki kegigihan dalam bekerja. Made I bersama petani keramba dan penjala ikan melakukan diversifikasi dengan membuat ekstrak minyak ikan Gabus yang berkhasiat.

Info Budaya Indonesia Ranu Klaka
Info Budaya Indonesia Ranu Klaka

Baca : Benarkah Alat Musik Tradisional Ini Telah Hilang Di Toraja

Ekstrak minyak ikan tersebut oleh ketua kelompok petani keramba ini, dijadikan sebagai salah satu suvenir bagi pengunjung. Ekstrak minyak ikan di tempatkan dalam bekas botol air mineral berukuran 600 ml dan dijual seharga Rp. 15000,00/botol pada pengunjung. “ tapi sekarang sudah tidak jalan lagi, karena pengunjung tidak banyak dan kami juga sudah kehabisan modal” ucap Made I yang menyayangkan banyak potensi yang belum optimal dijadikan objek wisata karena terbentul modal. (*FJ)

LEAVE A REPLY