Home Budaya Surat Dukungan dan Penyelamatan dan Pemanfaatan Gedung SINGA Dari Arsitek Belanda Di...

Surat Dukungan dan Penyelamatan dan Pemanfaatan Gedung SINGA Dari Arsitek Belanda Di AMSTERDAM

143
0
SHARE

Infobudaya.com Banyak puing-puing sejarah yang terkandung dalam gedung-gedung peninggalan penjajah Belanda yang terdapat di Indonesia. Termasuk di Surabaya.

Salah satu gedung yang lagi ramai di media sosial adalah Singa di jalan Jembatan Merah 19-23 Surabaya. Akibat Gedung-gedung tersebut sehingga Bergandring Soerabaia yang merupakan pengiat sejarah memasang poster di gedung tersebut.

Surat Dukungan dan Penyelamatan dan Pemanfaatan Gedung SINGA

Surat dukungan untuk upaya penyelamatan dan pemanfaatan bangunan cagar budaya Gedung Singa di Surabaya datang dari seorang arsitek dari Belanda. Ditujukan untuk Begandring Soerabaia dalam rangka ikut mendukung upaya komunitas dalam menjaga gedung bersejarah dan penting bagi dunia arsitektur yang tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Berlage adalah bapak arsitektur moderen di masanya tapi masih menjadi patrun arsitek hingga masa sekarang.

Baca : Kepercayaan Wangsa Bonokeling

Surat ini datang dari Marco Bruijnes, seorang arsitek yang memiliki spesialisasi merestorasi bangunan bangunan bersejarah di Belanda. Salah satu nya adalah restorasi Benteng Honswijk.

Marco dan tim arsitek Belanda pernah datang ke Surabaya dengan tujuan ikut berpartisipasi merestorasi yang kemudian bisa dimanfaatkan secara publik dan terbuka bagi warga Surabaya dan dunia. Tapi niat mereka terganjal oleh prosedur di Jiwasraya sehingga niat tulus yang idialis untuk penyelamatan dan pemanfaatan gedung Singa gagal.
Tim arsitek ini bahkan sudah sempat bertemu walikota Surabaya waktu itu, Tri Rismaharini dan beberapa pejabat kementrian BUMN di Jakarta serta pegiat sejarah. Namun sayang usaha tulusnya kandas.

Baca : Festival Teluk Palu

Berikut surat Marco Bruijnes.
… Surat…
Berlage building – Gedung Singa, Jalan Jembatan Merah Surabaya
When I studied architecture in Amsterdam, my first college was about Berlage. He is important because he was one of the first to think about modern architecture, and wanted to get rid of the neo-styles of the 19th century.

He made ‘honest’ architecture. In his designs, the function of the materials had to be clear, as well as the structure and the way gravity was defied. He mainly used brick work, no stucco. And not too much ornaments.
In the Netherlands all of Berlages buildings are very well restored and maintained.

Outside the Netherlands he only made buildings in England and Indonesia. He was very much interested in traditional Indonesian architecture.

To me his building for ‘De Algemeene’ at Jl. Jembatan Merah in Surabaya is very special because on the one hand it is typical for his architecture: the brick work arcs in the front elevation, natural stone elements and the partly open masonry balustrade. And of course the use of art like the two winged jaguars and the ceramic tiles tableau. On the other hand Berlage adapted the design to the Indonesian climate and mixed it with traditional Indonesian elements: the six meter high floors, the set back of the doors and windows, and the use of stucco.

So the building in Surabaya takes a very special place in his oeuvre.
Furthermore the building is important for the city of Surabaya’s urban design because of its place in the old city centre, along the river, at its very historic spot near the Jembatan Merah. It has an important contribution to the architectural appearance of this part of the city.

To maintain this cultural heritage, the building must be well restored, and ideally should be transformed and redeveloped into a public function, so the people of Surabaya and its visitors can enjoy the building as a whole.
Marco Bruijnes, architect

Baca : Perkembangan Dramaturgi dalam Pertunjukan Kontemporer oleh Petter Eckersall

Surat Dukungan dan Penyelamatan dan Pemanfaatan Gedung SINGA

April 17th, 2021

TERJEMAHAN;
Gedung Berlage – Gedung Singa, Jalan Jembatan Merah Surabaya
Ketika saya belajar arsitektur di Amsterdam, mata kuliah pertama saya adalah tentang Berlage. Berlage penting karena dia adalah salah satu orang pertama yang berpikir tentang arsitektur modern, dan ingin menyingkirkan gaya neo abad ke-19.

Dia membuat karya arsitektur dengan ‘jujur’ dan lugas. Dalam desainnya, fungsi material harus jelas, serta struktur dan cara penentangan gravitasi. Utamanya dia menggunakan materialan batu bata, tidak ada semen. Dan tidak terlalu banyak ornamen.

Di Belanda semua bangunan karya Berlages dipugar dan dirawat dengan sangat baik.
Di luar Belanda ia hanya membuat gedung di Inggris dan Indonesia. Ia sangat tertarik dengan arsitektur tradisional Indonesia.

Bagiku gedung ‘De Algemeene’ di Jl. Jembatan Merah di Surabaya sangat istimewa karena di satu sisi khas dengan gaya arsitekturnya: aksentuasi relung dengan struktur batu bata menghiasi pada elevasi depan bangunan, elemen batu alam dan langkan dari pasangan bata yang terbuka sebagian. Dan tentu saja penggunaan seni seperti dua singa bersayap dan tablo ubin keramik. Di sisi lain, Berlage menyesuaikan desain dengan iklim Indonesia dan memadukannya dengan elemen tradisional Indonesia: lantai setinggi enam meter, set belakang pintu dan jendela, serta penggunaan plesteran.

Maka gedung Berlage di Surabaya ini menempati tempat yang sangat istimewa dalam oeuvre-nya.
Selain itu, bangunan ini penting untuk desain perkotaan kota Surabaya karena letaknya di pusat kota tua di depan sungai, di tempat yang sangat bersejarah di dekat Jembatan Merah. Ini memiliki kontribusi penting terhadap penampilan arsitektur bagian kota ini.

Untuk menjaga cagar budaya ini, bangunan harus dipugar dengan baik, idealnya disulap dan dibangun kembali menjadi fungsi publik, sehingga masyarakat Surabaya dan pengunjungnya dapat menikmati bangunan tersebut secara utuh.

Marco Bruijnes, arsitek
17 April 2021

Pandangan dan komentar dari manca ini bisa menjadi pelajaran buat kita. (Nanang).

LEAVE A REPLY