Home Budaya Topeng dalam Seni dan Sosial Budaya

Topeng dalam Seni dan Sosial Budaya

438
0
SHARE
Info budaya Topeng ensiklopedia
Info budaya Topeng ensiklopedia

InfoBudaya : Topeng secara umum dimaknai sebagai “benda mati” yang berbentuk muka, atau yang dipakai pada muka. Tidak semua yang dipakai pada muka itu berbentuk muka. Topeng-topeng (kedok) untuk bekerja di perbengkelan maupun di kedokteran, adalah misal-misalnya. Demikian juga sebaliknya yang berbentuk muka itu tidak selalu dipakai pada muka.

Topeng-topeng barongan, umpamanya, umumnya dipegang tangan, dan posisinya sering jauh dari muka pemainnya. Ondél-ondél, atau barong landung di Bali, juga “topeng”-nya berada di atas muka pemainnya.

Info budaya Topeng ensiklopedia
Info budaya Topeng ensiklopedia

Dalam pertunjukan kesenian, topeng memiliki fungsi mengubah karakter pemakainya untuk menjadi yang lain atau yang lian, sehingga berwujud seperti yang diperankannya. Misalnya, untuk memainkan karakter suatu tokoh cerita yang halus-baik atau yang kasar-buruk, ia akan memakai topeng seperti yang diinginkan.

Inilah yang mewujudkan pelbagai jenis topeng di seluruh pelosok dunia, yang jumlahnya tak terhitung, baik dari bentuk dasarnya (lonjong, bulat, persegi), ukurannya (besar-kecil), karakternya (tokoh yang digambarkan), bahan pembuatannya (kayu, logam, keramik, kain), dll.

Info Budaya Topeng Patih Gajah Meto
Info Budaya Topeng Patih Gajah Meto

Tapi, makna topeng yang mentransformasikan seseorang menjadi yang lain atau lian itu tidak selalu berdasar pada nilai ekspresi “seni,” atau bentuknya saja secara estetis. Sebuah topeng keramat, misalnya, mungkin yang utama adalah bendanya itu sendiri: sebagai warisan leluhur, yang dipercayai memiliki daya tersendiri, yang mempunyai kekuatan (power) metafisik, dsb.

Beberapa penari memilih topeng pusaka untuk dimainkannya, bukan atas dasar tampak bagus-jeleknya dari sisi “keindahan” atau pandangan penonton, melainkan dari sisi kemantapan batiniahnya. Dengan topeng yang pusaka itu ia merasakan mendapat daya tersendiri. Maka, nilai atau isi dari topeng bukanlah semata dari aspek rupa yang diciptakan si pembuat, tapi bisa juga dari aspek sejarah, asal-usul.

Ketika dipakai, topeng mungkin juga berfungsi praktis sebagai sesuatu yang melindungi, seperti topeng (kedok) untuk keamanan dalam bekerja, untuk menghindari racun (seperti topeng gas) di tempat berbahaya atau dalam perang oleh para prajurit. Di situ, topeng mungkin saja tidak berbentuk muka, tapi dipakai di bagian muka—seperti halnya kain yang dipakai penjahat untuk menutupi identitas dirinya.

info Budaya Topeng Tukang Las
info Budaya Topeng Tukang Las

Di tataran lain, sebagai idiom (semantik), topeng berarti sesuatu yang mengubah wajah atau laku yang “berbeda dari yang sesungguhnya.” Jika seseorang dikatakan “bertopeng,” berarti ia tidak jujur, tidak sama antara yang tampak di luar dan yang sesungguhnya di dalam.

Pembedaan atau “ketidakjujuran” itu tidak semuanya buruk; ada juga yang tujuannya baik, seperti misalnya sopan-santun, anggah-ungguh. Jadi, ketidakterus-terangan suatu laku atau perkataan dengan “bertopeng” itu ada yang untuk menipu dan merugikan yang lain, tapi ada pula yang demi halusnya penyampaian agar dirasa tepat, nyaman, sopan atau beradab.

Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa topeng memiliki makna luas, menyangkut berbagai hal dalam kehidupan manusia. Dalam kesenian, topeng dipergunakan untuk kepentingan menari, bermain teater, film, dan seni pertunjukan lainnya. Tapi, topeng juga tidak hanya dipakai oleh manusia, juga sering dipakaikan pada binatang, seperti kera (dalam barangan topeng monyet), kuda (dalam kuda renggong di Sunda), atau sapi dalam karapan di Madura.

info budaya moyet bertopeng (Image Kompassiana)
info budaya moyet bertopeng (Image Kompassiana)

Sebutan “topeng,” juga bukan saja terhadap barangnya sebagai penutup atau yang berbentuk muka. Topeng bisa berarti pertunjukannya, bahkan penari topengnya. Beberapa wilayah memiliki istilah yang berbeda untuk menyebut pertunjukan dan barangnya.

Di Jawa, istilah kedhok (selain topeng itu sendiri) berarti bendanya, seperti tapel dan tapuk dalam bahasa Jawa Kuna. Di Bali dan Lombok tapel sampai kini dipakai, yang berarti sama dengan kedhok. Sedangkan topéng di Cirebon misalnya, berarti suatu “pertunjukan topeng,” dan juga penarinya. Tapi baik pertunjukan ataupun penarinya itu, terbatas pada suatu jenis kesenian bertopeng tertentu, tidak pada seluruh pertunjukan bertopeng—seperti istilah patopéngan di Bali.

Di Jawa Timur, terdapat banyak nama untuk jenis-jenis pertunjukan bertopeng, misalnya: wayang topéng, topéng dhalang, topéng jaranan, barongan, wayang kerteh, dan lain-lain. (Sumber Dewan Kesenian Jatim)

LEAVE A REPLY