
InfoBudaya.com – Mojokerto – Kawasan Trowulan bukan sekadar destinasi wisata sejarah. Di wilayah yang diyakini sebagai bekas ibu kota Kerajaan Majapahit tersebut, setiap susunan bata, kolam kuno, dan struktur bangunan menyimpan kisah tentang salah satu peradaban terbesar yang pernah berdiri di Nusantara. Melalui Praktikum Kuliah Lapangan mata kuliah Arkeologi, mahasiswa Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) berkesempatan menelusuri langsung jejak kejayaan Majapahit melalui berbagai situs arkeologi yang tersebar di kawasan Trowulan.
Kunjungan ini menjadi bagian penting dari pembelajaran lapangan yang bertujuan memperkenalkan metode penelitian arkeologi sekaligus memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai kehidupan masyarakat Majapahit. Salah satu situs utama yang menjadi objek kajian adalah Candi Tikus, sebuah bangunan petirtaan yang menjadi salah satu ikon arkeologi Trowulan.
Baca Juga : Sejarawan Muda Asal Gebang Ambil Peran dalam Pendataan Warisan Budaya Kabupaten Jember
Di hadapan struktur bata merah yang tersusun rapi, mahasiswa melakukan observasi terhadap bentuk bangunan, tata ruang, sistem saluran air, serta elemen-elemen arsitektural yang masih terawat hingga saat ini. Dari hasil pengamatan tersebut, mahasiswa mempelajari bagaimana masyarakat Majapahit memiliki kemampuan teknik dan pengelolaan lingkungan yang maju pada masanya.

Dosen pengampu menjelaskan bahwa Candi Tikus tidak dapat dipahami secara terpisah dari situs-situs lain yang terdapat di kawasan Trowulan. Sebagai bagian dari pusat pemerintahan Majapahit, keberadaan petirtaan tersebut memiliki keterkaitan dengan sistem kehidupan masyarakat, tata kota, aktivitas keagamaan, hingga pengelolaan sumber daya air yang berkembang pada masa itu.
“Candi Tikus merupakan salah satu bagian dari lanskap arkeologi Trowulan. Untuk memahami fungsinya secara utuh, kita harus melihat hubungannya dengan situs-situs lain yang berada dalam satu kawasan bekas ibu kota Majapahit,” jelasnya.
Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa juga mengamati berbagai tinggalan arkeologis lain yang tersebar di Trowulan. Melalui pengamatan terhadap struktur bangunan, bata kuno, saluran air, serta artefak yang ditemukan di kawasan tersebut, mereka mencoba merekonstruksi kehidupan masyarakat Majapahit pada abad ke-14 hingga ke-15.
Aktivitas observasi dilakukan secara sistematis. Mahasiswa mencatat kondisi situs, mendokumentasikan berbagai temuan, serta melakukan diskusi kelompok untuk menginterpretasikan fungsi dan makna tinggalan arkeologis yang mereka temukan. Kegiatan ini memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana seorang peneliti sejarah dan arkeologi bekerja di lapangan.
Berdasarkan bukti material yang diamati, mahasiswa memperoleh gambaran bahwa Majapahit bukan hanya pusat kekuasaan politik, tetapi juga pusat aktivitas ekonomi, sosial, budaya, dan keagamaan yang kompleks. Keberadaan sistem drainase, petirtaan, bangunan keagamaan, hingga kawasan permukiman menunjukkan tingginya tingkat organisasi masyarakat pada masa tersebut.
Melalui pendekatan arkeologis, mahasiswa belajar bahwa tinggalan material dapat menjadi sumber informasi yang sangat penting dalam memahami masa lalu. Bata merah yang tersusun menjadi bangunan, sistem pengairan yang dirancang dengan baik, serta tata ruang kawasan memberikan petunjuk mengenai pola kehidupan masyarakat yang pernah menghuni Trowulan berabad-abad lalu.
Baca Juga : Jelajah pusaka Sejarah di Ranu Klakah
Salah seorang mahasiswa peserta praktikum mengaku mendapatkan pengalaman baru ketika melihat langsung berbagai situs di Trowulan. Menurutnya, pembelajaran lapangan membuat sejarah terasa lebih hidup karena bukti-bukti yang selama ini dipelajari dalam buku dapat diamati secara nyata.
“Melihat langsung situs-situs di Trowulan membuat kami lebih mudah memahami bagaimana kehidupan masyarakat Majapahit berlangsung. Kami bisa melihat bukti fisik yang menunjukkan kemajuan peradaban mereka,” ujarnya.
Kegiatan praktikum ini tidak hanya memperkuat pemahaman akademik mahasiswa mengenai sejarah Majapahit, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan pentingnya pelestarian warisan budaya. Sebagai kawasan yang menyimpan ribuan tinggalan arkeologis, Trowulan memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi Indonesia dan menjadi sumber pembelajaran yang berharga bagi generasi masa kini.
Melalui kunjungan ke kawasan Trowulan, mahasiswa SPI diajak memahami bahwa sejarah tidak hanya tersimpan dalam naskah dan literatur, tetapi juga dalam jejak-jejak material yang masih bertahan hingga sekarang. Dengan mengamati langsung tinggalan arkeologis dan menghubungkannya dengan konteks sejarah, mereka memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang kehidupan masyarakat Majapahit serta kebesaran peradaban Nusantara yang pernah berjaya di masa lampau.
Kontributor : Marsya Dwi Amailia
Program Studi Sejarah dan Peradaban Islam
UIN Kiai Haji Achmad Siqqid Jember






















